Lewati ke konten utama
Beranda / Penulis

Profil penulis

SE

248 karya publik ditemukan.

2026: 232025: 452024: 72023: 532022: 652021: 222020: 12019: 42018: 22

EVALUASI KUALITAS HIDUP PASIEN DIABETES MELITUS TIPE 2 YANG MENDAPATKAN MONOTERAPI DAN KOMBINASI TERAPI DI INSTALASI RAWAT JALAN RSUD CIAWI BOGOR

2022 · Book · Koleksi Perpustakaan

Diabetes melitus merupakan sekumpulan gangguan metabolik yang dicirikan dengan karena adanya kelainan sekresi insulin, kerja insulin atau kedua-duanya. Tujuan penelitian ini dilakukan untuk mengetahui kualitas hidup pasien DM tipe 2 di RSUD Ciawi Bogor. Penelitian ini dilakukan secara prosfektif non eksperimental selama periode Januari-Maret 2020. Subyek yang memenuhi kriteria inklusi adalah 53 pasien DM tipe 2 dibagi menjadi 2 kelompok yaitu kelompok monoterapi sejumlah 17 pasien dan kelompok kombinasi terapi sejumlah 36 pasien. Pengumpulan data dilakukan dengan melakukan pengisian kuisioner Diabetes Quality of Life Clinical Trial Quessionnaire (DQLCTQ) untuk mengukur kualitas hidup dan rekam medis untuk mengetahui jenis terapi pasien. Hasil penelitian menunjukan bahwa karakteristik subyek penelitian yaitu indeks masa tubuh, status pernikahan dan penghasilan terdapat perbedaan bermakna terhadap kualitas hidup (p<0,05) dan jenis kelamin, pendidikan, usia dan pekerjaan tidak terdapat perbedaan yang bermakna terhadap kualitas hidup (p>0,05). Profil pengobatan pada monoterapi terbanyak yaitu metformin sebanyak 14 responden (70%) dan pada kombinasi terapi terbanyak yaitu metformin dan glimepirid sebanyak 13 responden (26%). Gambaran kualitas hidup pasien yaitu nilai rata-rata pada kategori baik sebesar 74,3 pada monoterapi didapatkan pada kategori sangat baik sebanyak 10 responden (55%) dan pada kombinasi terapi didapatkan pada kategori baik sebanyak 26 responden (72%). Faktor- faktor yang mempengaruhi kualitas hidup yaitu jenis kelamin, pendidikan, usia, pekerjaan, penghasilan dan terapi dengan nilai (p<0,05). Pasien dengan monoterapi memiliki skor rata-rata kualitas hidup lebih rendah daripada pasien dengan kombinasi terapi dengan skor rata-rata kualitas hidup yaitu 72,8 ± 12,7 dan 78,2 ± 11,2 (p<0,05). Dengan demikian terdapat perbedaan yang bermakna antara yang mendapat monoterapi dan kombinasi terapi.

EVALUASI PENATALAKSANAAN DAN KEBERHASILAN TERAPI OBAT ANTIHIPERTENSI PADA PASIEN HIPERTENSI DI PUSKESMAS BOGOR SELATAN

2022 · Book · Koleksi Perpustakaan

Hipertensi adalah peningkatan tekanan darah sistolik lebih dari 140 mmHg serta tekanan darah diastolik lebih dari 90 mmHg dengan pemeriksaan yang berulang. Dalam hal meningkatkan keberhasilan terapi, penggunaan obat yang rasional sangat penting. Jika penderita hipertensi tidak diobati maka terjadi komplikasi. Untuk pasien hipertensi harus meminum obat antihipertensi untuk mencapai efek terapinya. Penelitian ini bertujuan melihat gambaran sosiodemografi pasien, gambaran pasien hipertensi dengan penyakit penyerta diabetes melitus, gambaran penggunaan obat antihipertensi, mengetahui kesesuaian, keberhasilan dan hubungan terapi obat antihipertensi berdasarkan JNC VIII tahun 2014 di Puskesmas Bogor Selatan. Penelitian ini, non-eksperimental dengan pendekatan cross sectional menggunakan data retrospektif dengan data sekunder yang diambil dari SIMPUS berupa rekam medik dan resep obat sebanyak 80 pasien dengan metode total sampling. Hasil penelitian ini, usia paling tinggi 56 – 65 tahun sebanyak 38 pasien (47,5%), berjenis kelamin perempuan sebanyak 68 pasien (85%). Hipertensi tanpa diabetes melitus sebanyak 70 pasien (87,5%). Obat yang terbanyak digunakan yaitu Amlodipin sebanyak 79 pasien (98,75%). Kesesuaian terapi berdasarkan JNC VIII tahun 2014 sebanyak 41 pasien (51,25%). Keberhasilan terapi berdasarkan JNC VIII tahun 2014 yang berhasil sebanyak 26 pasien (32,5%). Hasil statistika, uji Chi-square nilai sig. 0,000 ≤ 0,05 yaitu ada hubungan yang signifikan antara kesesuaian dengan keberhasilan terapi.

HUBUNGAN TINGKAT KEPATUHAN MINUM OBAT ANTIHIPERTENSI TERHADAP TEKANAN DARAH PADA PASIEN PENDERITA HIPERTENSI DI KLINIK PERTIWI DEPOK

2022 · Book · Koleksi Perpustakaan

Hipertensi merupakan faktor penting sebagai pemicu penyakit tidak menular seperti penyakit jantung, stroke, serta penyakit kardiovaskular lain yang menjadi penyebab banyak kematian di dunia. Kepatuhan pasien dalam menjalani pengobatan merupakan faktor penting untuk tercapainya efek terapi pengobatan hipertensi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara tingkat kepatuhan minum obat antihipertensi terhadap tekanan darah pasien. Desain penelitian ini bersifat prospektif non eksperimental pengambilan data selama periode April – Mei 2022 sebanyak 62 sampel. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa jenis kelamin responden paling banyak berjenis kelamin perempuan sebanyak 71%, rentang usia terbanyak usia 56 – 65 tahun sebanyak 56,5%, tingkat pendidikan terbanyak SMA sebanyak 66,1% dan pekerjaan terbanyak sebagai ibu rumah tangga sebanyak 61,3%. Gambaran tekanan darah normal (<120/80 mmHg) sebanyak 3,2%, prahipertensi (120-139/80-89 mmHg) sebanyak 14,5%, hipertensi tahap 1 (140- 159/90-99 mmHg) sebanyak 40,3% dan hipertensi tahap 2 (>160/100 mmHg) sebanyak 41,9%. Gambaran tingkat kepatuhan pasien hipertensi dengan kepatuhan rendah sebanyak 37,1%, tingkat kepatuhan sedang sebanyak 46,8% dan tingkat kepatuhan tinggi sebanyak 16,1%. Hasil uji Chi-Square diperoleh nilai signifikasi, p-value (0,267) > (0,05) maka dapat disimpulkan bahwa tidak ada hubungan antara tingkat kepatuhan dengan tekanan darah pasien hipertensi di Klinik Pertiwi 1 Depok.

PERBEDAAN STABILITAS HEMODINAMIK OBAT KOMBINASI PROPOFOL-KETAMIN-MIDAZOLAM DAN KOMBINASI PROPOFOL-FENTANYL-MIDAZOLAM PADA INDUKSI ANESTESI PASIEN OPERASI DI RS SILOAM BOGOR

2022 · Book · Koleksi Perpustakaan

Propofol adalah obat hipnotik-sedatif yang dapat menyebabkan perubahan stabilitas hemodinamik yang signifikan berupa hipotensi. Oleh sebab itu, untuk menjaga stabilitas hemodinamik diperlukan kombinasi propofol. Di RS Siloam Bogor propofol sering dikombinasikan dengan fentanyl-midazolam dan ketamin-midazolam. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan stabilitas hemodinamik obat kombinasi propofol-ketamin-midazolam dan kombinasi propofol-fentanyl-midazolam pada induksi anestesi pasien operasi di RS Siloam Bogor. Penelitian yang dilakukan merupakan penelitian observasional yang bersifat deskriptif dan statistik dengan pengambilan data sekunder dari data rekam medik secara retrospektif sebanyak 70 pasien dengan Rumus Slovin. Data dianalisis menggunakan SPSS versi 26. Hasil penelitian ini menunjukan efek stabilitas hemodinamik pasien yang menggunakan induksi propofol-fentanyl-midazolam menyebabkan penurunan Tekanan Arteri Rerata (TAR) sebanyak 3,34 ± 3,44 mmHg, untuk pengguna induksi propofol-ketamin-midazolam mengalami penurunan sebanyak 3,52 ± 3,05 mmHg. Penurunan denyut nadi untuk penggunaan induksi propofol-fentanyl-midazolam sebanyak 1,03 ± 1,55 x/menit, sedangkan untuk induksi propofol-ketamin-midazolam juga mengalami penurunan denyut nadi sebanyak 6,03 ± 3,25 x/menit. Pada Respiratory Rate (RR) untuk penggunaan induksi propofol-fentanyl-midazolam mengalami kenaikan sebanyak 1,53 ± 0,51 x/menit, dan untuk penggunaan induksi propofol-ketamin-midazolam mengalami kenaikan sebanyak 0,55 ± 1,41 x/menit. tidak ada perbedaan bermakna pada variabel efek stabilitas hemodinamik berdasarkan parameter TAR, denyut nadi, dan RR pada kedua kelompok induksi dari P>0,05 (0,154) untuk TAR, P>0,05 (P=0,558) untuk denyut nadi, dan P>0,05 (P=0,075) untuk RR.