2022 · Book · Koleksi Perpustakaan
Diabetes melitus merupakan sekumpulan gangguan metabolik yang dicirikan
dengan karena adanya kelainan sekresi insulin, kerja insulin atau kedua-duanya.
Tujuan penelitian ini dilakukan untuk mengetahui kualitas hidup pasien DM tipe 2
di RSUD Ciawi Bogor. Penelitian ini dilakukan secara prosfektif non eksperimental
selama periode Januari-Maret 2020. Subyek yang memenuhi kriteria inklusi adalah
53 pasien DM tipe 2 dibagi menjadi 2 kelompok yaitu kelompok monoterapi
sejumlah 17 pasien dan kelompok kombinasi terapi sejumlah 36 pasien.
Pengumpulan data dilakukan dengan melakukan pengisian kuisioner Diabetes
Quality of Life Clinical Trial Quessionnaire (DQLCTQ) untuk mengukur kualitas
hidup dan rekam medis untuk mengetahui jenis terapi pasien. Hasil penelitian
menunjukan bahwa karakteristik subyek penelitian yaitu indeks masa tubuh, status
pernikahan dan penghasilan terdapat perbedaan bermakna terhadap kualitas hidup
(p<0,05) dan jenis kelamin, pendidikan, usia dan pekerjaan tidak terdapat
perbedaan yang bermakna terhadap kualitas hidup (p>0,05). Profil pengobatan pada
monoterapi terbanyak yaitu metformin sebanyak 14 responden (70%) dan pada
kombinasi terapi terbanyak yaitu metformin dan glimepirid sebanyak 13 responden
(26%). Gambaran kualitas hidup pasien yaitu nilai rata-rata pada kategori baik
sebesar 74,3 pada monoterapi didapatkan pada kategori sangat baik sebanyak 10
responden (55%) dan pada kombinasi terapi didapatkan pada kategori baik
sebanyak 26 responden (72%). Faktor- faktor yang mempengaruhi kualitas hidup
yaitu jenis kelamin, pendidikan, usia, pekerjaan, penghasilan dan terapi dengan
nilai (p<0,05). Pasien dengan monoterapi memiliki skor rata-rata kualitas hidup
lebih rendah daripada pasien dengan kombinasi terapi dengan skor rata-rata kualitas
hidup yaitu 72,8 ± 12,7 dan 78,2 ± 11,2 (p<0,05). Dengan demikian terdapat
perbedaan yang bermakna antara yang mendapat monoterapi dan kombinasi terapi.
2022 · Book · Koleksi Perpustakaan
2022 · Book · Koleksi Perpustakaan
Hipertensi adalah peningkatan tekanan darah sistolik lebih dari 140 mmHg serta
tekanan darah diastolik lebih dari 90 mmHg dengan pemeriksaan yang berulang.
Dalam hal meningkatkan keberhasilan terapi, penggunaan obat yang rasional sangat
penting. Jika penderita hipertensi tidak diobati maka terjadi komplikasi. Untuk
pasien hipertensi harus meminum obat antihipertensi untuk mencapai efek
terapinya. Penelitian ini bertujuan melihat gambaran sosiodemografi pasien,
gambaran pasien hipertensi dengan penyakit penyerta diabetes melitus, gambaran
penggunaan obat antihipertensi, mengetahui kesesuaian, keberhasilan dan
hubungan terapi obat antihipertensi berdasarkan JNC VIII tahun 2014 di Puskesmas
Bogor Selatan. Penelitian ini, non-eksperimental dengan pendekatan cross
sectional menggunakan data retrospektif dengan data sekunder yang diambil dari
SIMPUS berupa rekam medik dan resep obat sebanyak 80 pasien dengan metode
total sampling. Hasil penelitian ini, usia paling tinggi 56 – 65 tahun sebanyak 38
pasien (47,5%), berjenis kelamin perempuan sebanyak 68 pasien (85%). Hipertensi
tanpa diabetes melitus sebanyak 70 pasien (87,5%). Obat yang terbanyak digunakan
yaitu Amlodipin sebanyak 79 pasien (98,75%). Kesesuaian terapi berdasarkan JNC
VIII tahun 2014 sebanyak 41 pasien (51,25%). Keberhasilan terapi berdasarkan
JNC VIII tahun 2014 yang berhasil sebanyak 26 pasien (32,5%). Hasil statistika,
uji Chi-square nilai sig. 0,000 ≤ 0,05 yaitu ada hubungan yang signifikan antara
kesesuaian dengan keberhasilan terapi.
2022 · Book · Koleksi Perpustakaan
2022 · Book · Koleksi Perpustakaan
Hipertensi merupakan faktor penting sebagai pemicu penyakit tidak menular seperti
penyakit jantung, stroke, serta penyakit kardiovaskular lain yang menjadi penyebab
banyak kematian di dunia. Kepatuhan pasien dalam menjalani pengobatan
merupakan faktor penting untuk tercapainya efek terapi pengobatan hipertensi.
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara tingkat kepatuhan
minum obat antihipertensi terhadap tekanan darah pasien. Desain penelitian ini
bersifat prospektif non eksperimental pengambilan data selama periode April – Mei
2022 sebanyak 62 sampel. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa jenis kelamin
responden paling banyak berjenis kelamin perempuan sebanyak 71%, rentang usia
terbanyak usia 56 – 65 tahun sebanyak 56,5%, tingkat pendidikan terbanyak SMA
sebanyak 66,1% dan pekerjaan terbanyak sebagai ibu rumah tangga sebanyak
61,3%. Gambaran tekanan darah normal (<120/80 mmHg) sebanyak 3,2%,
prahipertensi (120-139/80-89 mmHg) sebanyak 14,5%, hipertensi tahap 1 (140-
159/90-99 mmHg) sebanyak 40,3% dan hipertensi tahap 2 (>160/100 mmHg)
sebanyak 41,9%. Gambaran tingkat kepatuhan pasien hipertensi dengan kepatuhan
rendah sebanyak 37,1%, tingkat kepatuhan sedang sebanyak 46,8% dan tingkat
kepatuhan tinggi sebanyak 16,1%. Hasil uji Chi-Square diperoleh nilai signifikasi,
p-value (0,267) > (0,05) maka dapat disimpulkan bahwa tidak ada hubungan antara
tingkat kepatuhan dengan tekanan darah pasien hipertensi di Klinik Pertiwi 1
Depok.
2022 · Book · Koleksi Perpustakaan
Propofol adalah obat hipnotik-sedatif yang dapat menyebabkan perubahan
stabilitas hemodinamik yang signifikan berupa hipotensi. Oleh sebab itu, untuk
menjaga stabilitas hemodinamik diperlukan kombinasi propofol. Di RS Siloam Bogor
propofol sering dikombinasikan dengan fentanyl-midazolam dan ketamin-midazolam.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan stabilitas hemodinamik obat
kombinasi propofol-ketamin-midazolam dan kombinasi propofol-fentanyl-midazolam
pada induksi anestesi pasien operasi di RS Siloam Bogor. Penelitian yang dilakukan
merupakan penelitian observasional yang bersifat deskriptif dan statistik dengan
pengambilan data sekunder dari data rekam medik secara retrospektif sebanyak 70
pasien dengan Rumus Slovin. Data dianalisis menggunakan SPSS versi 26.
Hasil penelitian ini menunjukan efek stabilitas hemodinamik pasien yang
menggunakan induksi propofol-fentanyl-midazolam menyebabkan penurunan
Tekanan Arteri Rerata (TAR) sebanyak 3,34 ± 3,44 mmHg, untuk pengguna induksi
propofol-ketamin-midazolam mengalami penurunan sebanyak 3,52 ± 3,05 mmHg.
Penurunan denyut nadi untuk penggunaan induksi propofol-fentanyl-midazolam
sebanyak 1,03 ± 1,55 x/menit, sedangkan untuk induksi propofol-ketamin-midazolam
juga mengalami penurunan denyut nadi sebanyak 6,03 ± 3,25 x/menit. Pada
Respiratory Rate (RR) untuk penggunaan induksi propofol-fentanyl-midazolam
mengalami kenaikan sebanyak 1,53 ± 0,51 x/menit, dan untuk penggunaan induksi
propofol-ketamin-midazolam mengalami kenaikan sebanyak 0,55 ± 1,41 x/menit. tidak
ada perbedaan bermakna pada variabel efek stabilitas hemodinamik berdasarkan
parameter TAR, denyut nadi, dan RR pada kedua kelompok induksi dari P>0,05
(0,154) untuk TAR, P>0,05 (P=0,558) untuk denyut nadi, dan P>0,05 (P=0,075) untuk
RR.
2022 · Book · Koleksi Perpustakaan
2022 · Book · Koleksi Perpustakaan
2022 · Book · Koleksi Perpustakaan
2022 · Book · Koleksi Perpustakaan
2022 · Book · Koleksi Perpustakaan
2022 · Book · Koleksi Perpustakaan
2022 · Book · Koleksi Perpustakaan
2022 · Book · Koleksi Perpustakaan
2022 · Book · Koleksi Perpustakaan
2022 · Book · Koleksi Perpustakaan
2022 · Book · Koleksi Perpustakaan
2022 · Book · Koleksi Perpustakaan
2022 · Book · Koleksi Perpustakaan
2022 · Book · Koleksi Perpustakaan