Ferry Effendi; Nendri Suhendrik; SHERLY MAULIDINA LESTARI SEPTIANI
2025 · Book · Open Access
Hipertensi atau tekanan darah tinggi yaitu peningkatan tekanan darah sistolik
lebih dari 140 mmHg dan tekanan darah diastolik lebih dari 90 mmHg. Terdapat
lima golongan utama obat antihipertensi yaitu ACEI, ARB, beta bloker, CCB dan
diuretik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik pasien dan
evaluasi ketepatan penggunaan obat antihipertensi di Puskesmas Sukalarang
Sukabumi periode Juli – Desember 2021. Penelitian ini bersifat deskriptif dengan
pengambilan data sekunder dari rekam medik. Pengambilan sampel menggunakan
rumus Slovin dengan teknik purposive sampling dengan tingkat kepercayaan 90%.
Populasi sebanyak 697 pasien, diambil sampel sebanyak 88 pasien. Hasil penelitian
karakteristik pasien hipertensi berdasarkan jenis kelamin terbanyak adalah
perempuan 59 pasien (67%), usia terbanyak adalah lansia akhir 56 – 65 tahun 30
pasien (34%), klasifikasi hipertensi terbanyak yaitu hipertensi derajat 1 sebanyak
42 pasien (48%) dan pasien tanpa penyakit penyerta 61%. Penggunaan obat
antihipertensi lebih banyak secara monoterapi sebesar 68% dibandingkan obat
kombinasi sebesar 32%. Monoterapi terbanyak adalah amlodipin sebesar 42%
sedangkan kombinasi terbanyak adalah captopril – amlodipin sebesar 24%.
Kemudian dilakukan evaluasi penggunaan obat antihipertensi dengan pedoman
Konsensus Penatalaksanaan Hipertensi (PERHI) tahun 2019, yaitu tepat indikasi
100%, tepat pasien 100%, tepat obat 76%, tepat dosis 100% dan tepat frekuensi
waktu pemberian obat 91%.
Febi Ishfahani; Rizal Mustia Abidin; YUSUP MAULANA
2025 · Book · Open Access
Waktu tunggu yang menjadi suatu tolak ukur dalam standar pelayanan minimal
farmasi di rumah sakit yang perlu dievaluasi untuk meningkatkan mutu pelayanan
kefarmasian di rumah sakit sakit dan untuk menjamin kepuasan pasien. Tujuan
penelitian untuk mengetahui hubungan waktu tunggu pelayanan resep dengan
kepuasan pasien rawat jalan di Instalasi Farmasi RS Bhayangkara Setukpa
Sukabumi dengan metode cross sectional secara prospektif menggunakan
kuesioner. Jumlah sampel yaitu 100 responden yang merupakan pasien atau
keluarga pasien dihitung menggunakan purposive sampling berdasarkan kriteria
inklusi dan ekslusi. Penelitian dilaksanakan pada bulan Januari-Maret 2022 di
Instalasi Farmasi RS Bhayangkara Setukpa Sukabumi. Hasil data sosiodemografi
berdasarakan jenis kelamin laki-laki (52%), pada usia 17-25 tahun (38%), pekerja
lain-lain (30%), dan BPJS lebih dominan (82%). Gambaran waktu tunggu resep non
racik 14,7 menit dan racikan 31,1 menit, dengan kesesuaian yaitu (89%), untuk
kepuasan berdasarkan 5 dimensi yaitu kehandalan (puas 45%), Ketanggapan (puas
43%), Jaminan (puas 62%), Empati (sangat puas 37%), dan Wujud / nyata (sangat
puas 40%). Terdapat hubungan yang signifikan antara waktu tunggu dengan 4
dimensi kepuasan pasien diataranya variabel kenyataan (p-value=0.003), empati (p-
value=0,007), ketanggapan (p-value=0.019) serta jaminan (p-value=0.008).
IKA TRISNAWATI; Silvi Nurafni; Syahruddin
2025 · Book · Open Access
Berdasarkan Laporan kinerja Direktorat Jenderal Pelayanan Kefarmasian
tahun 2017 menjelaskan bahwa puskesmas yang melaksanakan pelayanan
kefarmasian sesuai standar adalah puskesmas yang telah menerapkan pemberian
informasi obat (PIO) dan terdokumentasi. Penelitian ini bertujuan untuk
mengetahui perbedaan pengetahuan responden tentang informasi obat sebelum dan
sesudah dilakukan penyuluhan tentang informasi obat meliputi cara mendapatkan,
menggunakan, menyimpan, dan membuang obat. Jenis Penelitian yang digunakan
adalah quasi eksperimental, dengan desain one group pretest posttest. Hasil
penelitian menunjukan bahwa Frekuensi responden paling banyak berjenis kelamin
laki-laki 66,34%, kategori usia dewasa menjadi responden terbanyak sebanyak
66,67%. Pendidikan paling banyak SMA 73,33% dan Pekerjaan paling banyak
Petani/Peternak sebesar 30%. Tingkat pengetahuan responden sebelum dilakukan
penyuluhan adalah kurang sebanyak 100%, namun setelah dilaksanakan
penyuluhan tentang PIO tingkat pengetahuan pasien meningkat dengan baik
26,67%, cukup 66,67% dan kurang 6,67%. Hasil analisis statistik dengan uji
Wilcoxon menunjukan bahwa adanya perbedaan bermakna tangkat pengetahuan
pasien tentang informasi obat sebelum dan sesudah diberikan penyuluhan dilihat
dari nilai p value < 0,05 (p-value = 0,000).
Silvi Nurafni; Siti Mariam; WANDA HUSNUL AFIFAH
2025 · Book · Open Access
Diabetes Melitus (DM) Tipe 2 merupakan salah satu penyakit metabolik
kronik yang berisiko timbulnya berbagai komplikasi. Pasien DM Tipe 2
membutuhkan terapi dalam jangka waktu lama, selain itu penderita yang disertai
dengan penyakit penyerta atau komplikasi akan mendapatkan obat lebih dari satu
atau kombinasi, sehingga dapat terjadi resiko interaksi obat yang dapat
memperberat efek samping, meningkatkan atau menurunkan efektivitas
pengobatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi interaksi obat dan
kejadian interaksi obat pada pasien DM Tipe 2. Penelitian ini dilakukan secara
deskriptif observasional. Pengambilan data dilakukan secara retrospektif dengan
pengambilan sampel menggunakan metode purposive sampling berdasarkan data
rekam medis dari 92 pasien yang memenuhi kriteria inklusi. Hasil penelitian
menunjukkan penderita terbanyak yaitu perempuan (59,78%) dengan rentang usia
terbanyak 65-74 tahun (54,35%). Penyakit penyerta paling banyak yaitu hipertensi
(71,74%). Penggunaan obat antidiabetes terbanyak adalah obat kombinasi 2 obat
(9,78%) dan penggunaan obat penyakit penyerta terbanyak yaitu golongan obat
Angiotensin 2 Receptor Blocker (51,09%). Terdapat 103 potensi interaksi obat
dengan mekanisme interaksi terbanyak yaitu interaksi farmakodinamik (87,38%)
dan level keparahan moderate (91,26%), serta kejadian interaksi sebanyak 36
kejadian dengan mekanisme interaksi terbanyak yaitu interaksi farmakodinamik
(97,30%) dan level keparahan moderate (86,11%).
DIANA KHOIRUNNISA; Dewi Pawitra Sari; Siti Mariam
2025 · Book · Open Access
Gagal ginjal kronik (GGK) merupakan penyakit stadium akhir yang sangat
progresif dan irreversibel yang ditandai dengan ketidakmampuan fungsi ginjal
dalam mempertahankan metabolisme, keseimbangan cairan dan elektrolit akibat
kerusakan struktur ginjal yang progresif dan dimanifestasikan oleh sisa metabolit
(toksin uremik) yang terakumulasi di dalam darah. Pasien GGK membutuhkan
terapi dalam jangka waktu lama, selain itu penderita yang disertai dengan
penyakit penyerta atau komplikasi akan mendapatkan beberapa terapi obat atau
kombinasi. Peluang terjadinya interaksi obat semakin tinggi, yang dapat
memperberat efek samping, meningkatkan atau menurunkan efektivitas
pengobatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adanya interaksi obat pada
pasien GGK. Penelitiani ini merupakan penelitian deskriptif observasional.
Pengambilan data dilakukan secara retrospektif dengan metode total sampling
berdasarkan data rekam medis dari 96 pasien yang memenuhi kriteria inklusi dan
eksklusi. Hasil penelitian menunjukkan penderita terbanyak yaitu perempuan
(53,13%) dengan rentan usia terbanyak 46-55 tahun (30,21%). Penyakit penyerta
paling banyak yaitu hipertensi (72,92%). Penggunaan obat antihipertensi
terbanyak yaitu kombinasi 2 obat (45,83%) dan penggunaan obat selain
antihipertensi terbanyak yaitu golongan obat vitamin dan suplemen (77,08%).
Terdapat 85 potensi interaksi obat dengan mekanisme interaksi terbanyak yaitu
interaksi farmakodinamik (75,29%) dan level keparahan moderate (71,76%), serta
kejadian interaksi sebanyak 34 kejadian dengan mekanisme interaksi terbanyak
yaitu interaksi farmakodinamik (88,24%) dan level keparahan moderate (79,41%).
ALLIF YATSARIDHO RAHMAN; Rantry Ristiantie; Siti Mariam
2025 · Book · Open Access
Tuberkulosis adalah penyakit menular yang disebabkan oleh Mycobacterium
tuberkulosis. Terapi pasien TB paru terdiri dari obat anti tuberkulosis (OAT) dan
obat non anti tuberkulosis (Non OAT) dalam penggunaanya dilakukan dalam
waktu bersamaan sehingga memungkinkan terjadinya interaksi obat. Penelitian
ini bertujuan mengetahui gambaran penggunaan OAT dan Non OAT. Potensi
terjadinya interaksi obat antar OAT, antar OAT dengan Non OAT dan antar Non
OAT dalam peresepan pasien Rawat Jalan di Rumah Sakit X Sukabumi. Jenis
penelitian ini adalah non eksperimental (observasional) dengan rancangan
deskriptif dan bersifat retrospektif. Pengambilan data berdasarkan data resep
elektronik pasien ditinjau secara teoritis dari studi literatur Drugs Interaction
Checeker. Terdapat 95 sampel pasien TB paru. Jenis kelamin terbanyak adalah
Laki-laki (66,3%). Usia pasien terbanyak rentang usia 26-35 tahun (dewasa awal)
(27,4%). Jenis OAT terbanyak digunakan adalah rifampisin (30,6%), dan
isoniazid (30,6%). Jenis Non OAT terbanyak digunakan adalah golongan obat
vitamin dan suplemen (27,8%). Terdapat (56,6%) obat yang mengalami potensi
interaksi, dan (43,4%) tidak mengalami potensi interaksi. Potensi interaksi obat
antar OAT terbanyak yaitu interaksi pada rifampisin dengan isoniazid (44,2%),
dan rifampisin dengan pyrazinamide (27,8%) dengan level keparahan terbanyak
Major (72,1%). Potensi interaksi obat antar OAT dan Non OAT terbanyak yaitu
interaksi pada isoniazid dengan paracetamol (51,7%) dengan level keparahan
terbanyak Moderate (55,8%). Sedangkan potensi interaksi obat antar Non OAT
terbanyak yaitu interaksi pada methylprednisolon dengan salbutamol (28,6%)
dengan level keparahan terbanyak Minor (38,1%).
Helena Mei Riawati; RIZKI ANISAH; Silvi Nurafni
2025 · Book · Open Access
Pada perkiraan tahun 2019, terdapat 9 juta kasus demam tifoid setiap
tahunnya, yang mengakibatkan sekitar 110.000 kematian per tahun. Risiko tifoid
lebih tinggi terjadi pada populasi yang tidak mempunyai akses terhadap air bersih
dan sanitasi yang memadai, dan anak-anak mempunyai risiko paling tinggi.
Penelitian ini bertujuan untuk melihat profil pasien, melihat gambaran penggunaan
antibiotik dan mengevaluasi ketepatan penggunaan antibiotik pada pasien tifoid
rawat jalan di Klinik Denti Sari Kabupaten Bogor periode Januari Januari – Juli
2023, meliputi tepat indikasi, tepat pasien, tepat obat, tepat dosis, tepat frekuensi
dan tepat lama pemberian. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif
observasional dengan pengambilan data secara retrospektif pada rekam medik dan
resep anak yang terdiagnosa demam tifoid rawat jalan di Klinik Denti Sari
Kabupaten Bogor periode Januari-Juli 2023 dengan jumlah sampel sebanyak 96.
Hasil penelitian menunjukan bahwa Karakteristik pasien demam tifoid anak di
Klinik Denti Sari Berdasarkan jenis kelamin lebih banyak laki-laki sebanyak 57
pasien (58,38%), usia terbanyak pada pasien demam tifoid adalah pada usia 5-11
tahun sebanyak 43 pasien (44,79%). Adapun berdasarkan berat badan lebih banyak
yang memiliki berat badan normal sebanyak 38 pasien (39,59%). Berdasarkan
gambaran penggunaan antibiotik didapatkan hasil penggunaan antibiotik terbanyak
adalah Cotrimoxazole (Sulfametoxazole-Trimethoprim) sebanyak 41 pasien
(42,71%). Evaluasi ketepatan penggunaan antibiotik pada demam tifoid anak untuk
tepat pasien sebanyak 96 pasien (100%), tepat indikasi sebanyak 96 pasien (100%),
pada tepat obat sebanyak 96 pasien (98,97%), pada tepat dosis sebanyak 14 pasien
(14,58%), tepat frekuensi sebanyak 83 pasien (86,46%) dan tepat lama pemberian
antibiotik sebanyak 96 pasien (100%) tidak tepat.
Novi Winda Lustsina dan Babara Azalya Sarifudin
2024 · Book · Open Access
Angga Cipta Narsa; Riski Sulistiarini; dan Hajrah
2024 · Book · Open Access
Eleonora Maryeta; dkk
2024 · Book · Open Access
Yoga Dwi Saputra
2024 · Book · Open Access
Rahmatullah;dkk
2024 · Book · Open Access
Mhd Riza Marjoni
2024 · Book · Open Access
Mhd Riza Marjoni
2024 · Book · Open Access
Tatiana Siska Wardani dan Nurul Nurhayati
2024 · Book · Open Access
James Wilson Asamau dan Tatiana Siska Wardani
2024 · Book · Open Access
Robert Tungadi
2024 · Book · Open Access
Goeswin Agoes
2024 · Book · Open Access
mhd Riza Marjoni;dkk
2024 · Book · Open Access
Irfansyah Baharuddin Pakki
2024 · Book · Open Access