Lewati ke konten utama
Beranda / Koleksi

COLLECTION

Koleksi Perpustakaan

Koleksi otomatis dari Perpustakaan

2.533 item publik

Publikasi

Halaman 91 dari 127

AKTIVITAS ANTIBAKTERI SEDIAAN SALEP EKSTRAK ETILASETAT DAUN SIRIH HIJAU (Piper Betle Linn) TERHADAP BAKTERI Propionibacterium acnes

Achmad Fauzi Isa; Eem Masaenah; HASNAH BAINATI
2021 · Book · Open Access

Jerawat (Acne vulgaris) adalah penyakit kulit yang terjadi akibat adanya peradangan yang dipicu oleh bakteri Propionibacterium acnes, Staphylococcus aureus, dan Staphylococcus epidermidis. Daun sirih hijau (Piper betle Linn) mengandung senyawa flavonoid, fenol dan tanin yang dapat menghambat pertumbuhan bakteri. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis aktivitas antibakteri dari ekstrak dan sediaan salep ekstrak etilasetat daun sirih hijau (Piper betle Linn) terhadap bakteri Propionibacterium acne dan mengevaluasi mutu fisik sediaan salep. Pengujian aktivitas antibakteri ekstrak dan sediaan salep menggunakan metode difusi sumuran dengan konsentrasi 2%, 4% dan 6% kontrol negatif basis tanpa ekstrak dan kontrol positif tetrasiklin. Parameter uji mutu fisik sediaan salep ekstrak daun sirih meliputi organoleptik, pH, homogenitas, daya sebar dan viskositas. Hasil uji menunjukkan ekstrak dan sedian salep memiliki aktivitas antibakteri terhadap bakteri Propionibacterium acne. Zona hambat ekstrak konsentrasi 2%,4% dan 6% berturut-turut sebesar 12,06 mm; 13,46 mm dan 15,2 mm termasuk kategori kuat. Zona hambat sediaan salep konsentrasi 2%,4% dan 6% berturut-turut sebesar 10,63 mm; 12,2 mm; 14,1 mm kategori kuat. Uji mutu fisik sediaan salep pada 2%, 4% dan 6% memenuhi persyaratan mutu fisik sediaan yang baik meliputi organoleptik, pH, homogenitas, daya sebar dan viskositas.

EVALUASI KETEPATAN PENGGUNAAN OBAT ANTIPSIKOTIK PADA PASIEN SKIZOFRENIA DI POLIKLINIK RUMAH SAKIT FMC BOGOR

Aulia Irfaniafshah; BILZON GOMBUINIS TOBIA; Fredy Arifta Nasel
2021 · Book · Open Access

Skizofrenia merupakan salah satu gangguan psikiatri yang kompleks , ditandai dengan adanya gangguan berpikir berupa delusi, halusinasi, pikiran kacau dan perubahan perilaku. Penanganan skizofrenia salah satunya dengan menggunakan pengobatan antipsikotik. Obat antipsikotik merupakan terapi utama yang efektif mengobati skizofrenia. Antipsikotik dibedakan menjadi dua generasi, yaitu generasi pertama (tipikal) dan generasi kedua (atipikal). Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi ketepatan penggunaan obat antipsikotik pada pasien skizofrenia di Poliklinik Rumah Sakit FMC Bogor. Parameter evaluasi meliputi tepat obat, tepat pasien, tepat dosis dan tepat frekuensi pemberian obat. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan metode total sampling. Data yang digunakan diambil dari rekam medik 96 pasien yang berusia 16 – 45 tahun periode Januari – Desember 2019. Dari hasil penelitian, skizofrenia lebih banyak dialami oleh laki-laki (62%) dan berusia 26-35 tahun (42%). Gambaran penggunaan antipsikotik terbanyak adalah antipsikotik golongan atipkal : Risperidon, Klozapin sebanyak 50 pasien (52%), antipsikotik golongan tipikal : Haloperidol, Klorpromazin sebanyak 5 pasien (5,2%) dan antipsikotik kombinasi atipikal dan tipikal : Risperidon + Klozapin + Haloperidol sebanyak 29 pasien (30%). Hasil penelitian menunjukkan tingkat ketepatan penggunaan obat antipsikotik yaitu kategori tepat obat 96%, tepat pasien 96%, tepat dosis 97%, tepat frekuensi pemberian obat 97%.

PENGARUH KADAR GULA DARAH TERHADAP WAKTU RIGOR MORTIS (KAKU MAYAT) JENAZAH DI INSTALASI KEDOKTERAN FORENSIK RSUD CIAWI BOGOR

ACHMAD FARID; Barnad; Febi Ishfahani
2021 · Book · Open Access

Achmad Farid, 16010073, Pengaruh Kadar Gula Darah Terhadap Waktu Rigor Mortis (Kaku Mayat) Jenazah Di Instalasi Kedokteran Forensik RSUD Ciawi Bogor, Skripsi, Program studi strata 1 (S1) Farmasi, STTIF Bogor, 2021. Kadar gula darah merupakan kadar glukosa yang terkandung dalam darah dalam suatu periode tertentu sebelum kematian (PERKENI, 2015). Tingginya kadar gula darah sangat berhubungan erat dengan penyakit diabetes. Penyakit diabetes merupakan penyakit yang tidak menular dan dapat menyebabkan kematian. Kadar gula darah yang tinggi akan menyebabkan gangguan metabolisme tubuh. Dimana cadangan gula dalam tubuh akan disimpan didalam otot sebagai glikogen dan ada sebagian dalam darah. Hal ini cadangan glikogen yang ada diotot akan mempengaruhi cepat atau lambatnya waktu rigor mortis. Gambaran usia pada sampel usia 36 tahun keatas sebanyak 83,33%, jenis kelamin 50% : 50%, riwayat penyakit sampel jenazah yang mempunyai riwayat diabetes sebanyak 20 pasien atau sebesar 66,67% , dan obat antibiotik sebanyak 36%. Gambaran kadar gula darah pasien sebelum meninggal dengan kadar gula ≥ 125 mg/dL sebelum meninggal sebanyak 20 jenazah atau sebesar 66,67%. Gambaran waktu rigor mortis terbanyak di 60 menit sebanyak 10 jenazah atau sebesar 33,33%. Sedangkan waktu rigor mortis tercepat di 30 menit sebanyak 2 jenazah atau sebesar 7%. Pengaruh kadar gula darah terhadap waktu rigor mortis bahwa jenazah dengan kadar gula ≥ 125 mg/dL mendominasi waktu rigor mortis di menit ke 60 setelah kematian dan sebanyak 10 jenazah. Sedangkan menit tercepat waktu rigor mortis di menit ke 30 setelah kematian mempunyai riwayat penyakit diabetes dengan kadar gula darah tinggi yaitu diatas ≥ 125 mg/dL dan tidak terkontrol. Jenazah yang mempunyai riwayat kadar gula darah ≥ 125 mg/dL mempengaruhi waktu rigor mortis lebih cepat yaitu 30 menit hingga 75 menit setelah waktu kematian. Hal ini dapat mempengaruhi alibi seseorang pada tindakan kriminal karena berhubungan dengan keterangan perkiraan waktu kematian yang ditentukan pada pemeriksaan rigor mortis (kaku mayat).

AKTIVITAS ANTIOKSIDAN BODY LOTION EKSTRAK ETANOL 70% DAUN UBI JALAR UNGU (Ipomoea batatas L.)

Eem Masaenah; NADDYA SYAFITRI; Triyani Sumiati
2021 · Book · Open Access

Lotion merupakan suatu sediaan kosmetik berbentuk emolien cair yang digunakan pada daerah tubuh dengan tujuan melembabkan dan melembutkan kulit. Lotion adalah pilihan paling tepat sebagai pelembab yang ringan atau bila digunakan untuk seluruh tubuh. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui nilai IC50 dari ekstrak etanol 70% daun ubi jalar ungu dan juga pada sediaan body lotion ekstrak etanol 70% daun ubi jalar ungu, serta untuk mengetahui nilai IC50 yang terbaik dari beberapa formulasi. Dalam penelitian ini digunakan 3 formulasi (FI, F2, F3), Konsentrasi ekstrak etanol 70% daun ubi jalar ungu dalam sediaan body lotion adalah 0,34%; 0,37% dan 0,40%. Pengujian aktivitas antioksidan pada ekstrak etanol 70% daun ubi jalar ungu memiliki nilai IC50 sebesar 24,11 ppm, sedangkan nilai IC50 pada sediaan formulasi I, II dan III secara berturut-turut yaitu 35,71 ppm, 32,92 ppm, dan 30,61 ppm. Nilai IC50 terbaik berada pada formulasi 3.

AKTIVITAS ANTIBAKTERI EKSTRAK ETIL ASETAT, ETANOL DAN AIR DARI BUAH SEGAR SAWO DUREN (Chrysophyllum cainito) TERHADAP BAKTERI Staphylococcus aureus dan Escherichia coli

AULIA PUSPITA SARI; Herson Cahaya Himawan; Rakhmat Ramdhani Alwie
2021 · Book · Open Access

Buah sawo duren (Chrysophyllum cainito) merupakan tumbuhan yang dapat digunakan sebagai antimikroba dan obat alternatif dalam pengobatan atau kontrol infeksi bakteri enterik. Sawo duren memiliki kandungan senyawa tanin, alkaloid, flavonoid, steroid dan glikosida jantung yang berasal dari ekstrak jus buah dan biji. Penelitian ini bertujuan untuk menguji aktivitas antibakteri dari ekstrak etil asetat, etanol 96%, dan air dari buah segar sawo duren. Uji aktivitas antibakteri ini dilakukan dengan menggunakan metode difusi sumuran. Ekstrak etil asetat, etanol 96% dan air dari buah segar sawo duren yang akan diuji dibuat ke dalam konsentrasi 10%, 20%, 30%, 40%, 50% yang selanjutnya dilakukan uji aktivitas bakteri Staphylococcus aureus dan Escherichia coli. Hasil uji aktivitas antibakteri ekstrak etil asetat, etanol 96% dan air dari buah segar sawo duren terhadap Staphylococcus aureus dan Escherichia coli di dapat hasil penghambatan pertumbuhan pada bakteri Staphylococcus aureus terdapat pada ekstrak akuades yaitu pada konsentrasi 50%, dengan nilai aktivitas terbaik 20,3 mm. Penghambatan terbaik pada pertumbuhan bakteri Escherichia coli terdapat pada ekstrak etil asetat yaitu pada konsentrasi 50%, dengan nilai 17,8 mm.

KRIM EKSTRAK AIR SARANGBURUNG WALET (Aerodramus fuchipagus) SEBAGAI INHIBITOR ENZIM TIROSINASE

Lilik Sulastri; Sofyan Ramani; TIFA JANINA
2021 · Book · Open Access

Kosmetik yang banyak diminati di Indonesia adalah kosmetik yang berbasis whitening, dengan berbahan dasar sintetis yang penggunaan dalam jangka waktu panjang dapat menimbulkan efek samping, Sehingga peneliti tertarik untuk mencari alternatif bahan whitening alami yang dijadikan sediaan krim dengan kontrol positif asam kojat. Bahan alam yang dipilih adalah sarangburung walet (Aerodramus fuchipagus). Peneliltian ini bertujuan untuk mengetahui ekstrak sarangburung walet dapat menginhibisi enzim tirosinase, untuk mengetahui krim sarangburung walet dapat menginhibisi enzim tirosinase, dan mengetahui nilai optimal inhibisi tirosinase krim sarangburung walet. Ekstrak sarangburung walet diperoleh melalui proses hidrolisis dan freeze drying, kemudian dilakukan uji kualitatif, fitokimi, pembuatan krim. Pengujian inhibisi pada ekstrak dan krim dilakukan dengan menggunakan substrat L-tirosin dengan panjang gelombang 492 nm. Ekstrak sarangburung walet mengandung protein, karbohidrat dan saponin. Aktivitas inhibisi tirosinase pada ekstrak air sarangburung burung walet dengan nilai IC50 38.636,69 ppm dan krim A dan B dengan nilai > 50 ppm. Krim dinyatakan stabil dengan metode cycling test selama 6 siklus.

POTENSI SALEP ANTIJERAWAT EKSTRAK MAHKOTA BUNGA MAWAR (Rosa chinensis Jacq) TERHADAP BAKTERI (Propionibacterium acnes)

ASTARI SIMANJUNTAK; Eem Masaenah; Herson Cahaya Himawan
2021 · Book · Open Access

Jerawat adalah kelainan berupa peradangan pada lapisan pilosebaseus yang disertai penyumbatan dan penimbunan bahan keratin yang dipicu oleh bakteri. Salah satu agen utama penyebab terjadinya inflamasi jerawat yaitu bakteri Propionibacterium acnes. Sediaan salep merupakan bentuk sediaan yang memiliki konsistensi yang cocok digunakan untuk terapi penyakit kulit yang disebabkan oleh bakteri. Bunga mawar merah (Rosa chinensis Jacq). mengandung flavonoid yang bersifat antibakteri yang merupakan turunan flavonoid yaitu senyawa antosianin. Senyawa ini merupakan zat pewarna alami yang larut air, mudah diserap tubuh yang berfungsi menghentikan infeksi dan antibakteri. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menentukan aktivitas antibakteri pada sediaan salep ekstrak mahkota bunga mawar merah terhadap bakteri Propionibacterium acne serta menetukan mutu fisik sediaan salep dari ekstrak mahkota bunga mawar merah. dengan uji menggunakan metode sumuran. mutu fisik meliputi: uji organoleptik, homogenitas, pH, uji daya sebar dan viskositas dari ekstrak sediaan salep mahkota bunga mawar merah. dibuat tiga formula sediaan salep dengan konsentrasi ekstrak yang diformulasi kebasis sebesar 5%, 10% dan 15%. Hasil penelitian menunjukan ekstrak mahkota bunga mawar merah mengandung senyawa kimia alkaloid, flavonoid, saponin dan tanin. Aktivitas antibakteri ekstrak mahkota bunga mawar merah konsentrasi 5%, 10%, 15% diperoleh zona hambat masing-masing sebesar 13,99 mm, 17,05 mm, 21,02 mm, 22,36 mm. Sediaan salep ekstrak mahkota bunga mawar merah F1, F2, dan F3 diperoleh zona hambat masing-masing sebesar 11,2 mm, 12,83 mm, 17,8 mm, 21,94 mm yang menunjukan sediaan salep dengan kategori kuat pada konsentrasi 15%. Pada uji mutu fisik sediaan salep dengan hasil organoleptik warna coklat, aroma khas ekstrak mawar merah, memiliki pH 4,5-6,5 viskositas pada kisaran 2000-50000 cPs sesuai dengan literatur.

HUBUNGAN.DRUG RELATED.PROBLEMS (DRPs) KATEGORI.DOSIS.OBAT.ANTIHIPERTENSI.DENGAN KONDISI.TEKANAN.DARAH DI RAWAT INAP RUMAH SAKIT DR. HAFIZ KABUPATEN CIANJUR

ANISA NURHASANAH; Fredy Ariefta Nasel; M. Reyhan Riksamuliman
2021 · Book · Open Access

Hipertensi.merupakan.salah.satu penyebab utama mortalitas dan morbiditas di Indonesia. Pada pemberian obat antihipertensi sering terjadi Drug Related Problems (DRPs) kategori dosis. DRPs merupakan suatu kejadian yang berpotensi mengganggu keberhasilan penyembuhan yang dikehendaki. DRPs domain kategori dosis meliputi dosis obat terlalu rendah, dosis obat terlalu tinggi, frekuensi pemberian regimen dosis terlalu rendah, frekuensi pemberian regimen dosis terlalu tinggi, informasi waktu dosis salah, tidak jelas atau hilang. Tujuan penelitian.ini adalah untuk mengetahui.hubungan DRPs kategori dosis.pada pemberian obat antihipertensi dengan kondisi tekanan darah penderita hipertensi di rawat inap Rumah Sakit Dr. Hafiz Kabupaten Cianjur. Penelitian ini merupakan penelitian analitik komparatif dengan desain retrospektif yang berasal dari rekam medis. Analisis.data.yang.digunakan adalah univariat.dan bivariat. Analisis data bivariat penelitian ini menggunakan analisis Chi square. Hasil penelitian dari 105 pasien secara total sampling diperoleh: pasien paling banyak berusia 56-65 tahun sebanyak 40 pasien (38,1%); pasien jenis kelamin perempuan 61 pasien (58,1%) dan laki laki 44 pasien (41,9%);.obat antihipertensi yang paling.banyak digunakan adalah Amlodipine sebanyak 75 resep (33,5%); kejadian DRPs kategori dosis pada pasien hipertensi sebesar 18 kejadian (17,1%); DRPs kategori dosis yang mengalami penurunan tekanan darah yang tidak tercapai yaitu 12 pasien (66,7%). Tidak ada hubungan yang signifikan antara kejadian DRPs kategori dosis dengan ketidaktercapaian.tekanan darah target.(p=0,418)

UJI EFEKTVITAS RAKSINASI EKSTRAK ETILASETAT TANAMAN PATAH TULANG (Euphorbia tirucalli L.) SEBAGAI DIURETIKA

AMELIA ABIDIN; Padmono Citroreksoko; Sofyan Ramani
2021 · Book · Open Access

Tanaman PatahTulang(Euphorbia tirucalli L.). merupakan tanaman yang banyak tumbuh liar di daerah daratan rendah serta mampu tumbuh di iklim tropis, dan sering dimanfaatkan sebagai obatberbagaipenyakit Salah satunya adalah Diuretik yaitu yang berguna sebagai penambahanvolumeurin yang diproduksi dan yang keduamenunjukanjumlah pengeluaran (kehilangan) zat- zat terlarut air urin. Penelitian ini bersifat eksperimental bertujuan untuk mengetahui fektivitas fraksinasi ekstrak etil asetat tanaman patah tulang(Euphorbia tirucalli L.) sebagai diuretika. Proses pembuatan ekstrak tanaman patah tulang diperoleh dengan cara maserasi selama 3x24 jam dengan 3x penyaringan lalu dipekatkan dengan Rotary Evaporator. Ekstrak pekat kemudian di fraksi dengan 3 pelarut yaitun-Heksana, air, danetilasetat. Selanjutnya hasil fraksi kembali dipekatkanhasilpekat ekstrak etil asetattanaman Patah tulang (Euphorbia tirucalli L.) kemudian di larutkandenganCMC(carboxymethyl cellulose). selanjutnya eksperimental dengan pengambilan sampel secara purposive, sebanyak 15ekor mencit yang terbagikdalam 5 kelompok perlakuan., masing-masing kelompok larutan Furosemida 0,104mg dan 0,208mg, larutan kejibeling 1,56mg, ekstrak fraksi tanaman patah tulang (Euphorbia tirucalli L.) dan Aquadest secara oral dan ukur volume urin selang waktu 30menit selama 3 jam. Hasil penelitian diperoleh kontrol negatif yaitu air 0,76ml dan untuk larutan furosemide 0,104mg dan 0,208mg sebagai kontrol positif masing-masing 3,69mL dan 5,15mL serta untuk kejibeling 1,56mg sebagai kontrol positif diperoleh 3,08mL dan ekstrak etil asetat tanaman patah tulang (Euphorbia tirucalli L.) diperoleh 1,93mL dengan hasil analisis menunjukan adanya perbedaan yang bermakna dalam volume urin yang dihasilkan tiap perlakuan denga p=0,000 (p<0,05). Ekstrak etil asetat tanaman patah (Euphorbia tirucalli L.) tulang memiliki efekdiuretik.

AKTIVITAS EKSTRAK ETANOL, ETIL ASETAT, DAN HEKSANA BIJI PEPAYA (Carica papaya L.) TERHADAP PENGHAMBATAN PERTUMBUHAN Pityrosporum ovale

Anna P. Roswiem; RIFHA SHAFIRA AWALIA; Sitaresmi Yuningtyas
2021 · Book · Open Access

Indonesia merupakan negara yang memiliki kelembapan tinggi, dimana kelembapan tersebut merupakan media tumbuhnya mikroorganisme seperti jamur. Salah satu penyakit yang disebabkan oleh jamur yaitu ketombe. Salah satu penyebab utama timbulnya ketombe yaitu Pityrosporum ovale. Penelitian ini bertujuan untuk menguji aktivitas ekstrak etanol, etil asetat dan heksana dari biji pepaya (Carica papaya L.) terhadap jamur Pityrosporum ovale dengan metode difusi sumuran. Serbuk simplisia dimaserasi secara bertingkat menggunakan pelarut heksana, etil asetat, dan etanol 96%. Dan pengujian aktivitas antijamur Pityrosporum ovale dari masing – masing ekstrak dengan konsentrasi 10%, 15%, dan 20% menggunakan metode difusi sumuran. Hasil penelitian menunjukan bahwa ekstrak etanol, etil asetat, dan heksana dari biji pepaya mengandung alkaloid, flavonoid, dan tanin. Ketiga ekstrak biji pepaya mempunyai aktivitas antifungi terhadap pertumbuhan Pityrosporum ovale berbeda nyata (α<0,05) satu sama lain. Aktivitas penghambatan pertumbuhan Pityrosporum ovale tertinggi pada ekstrak etanol biji pepaya dengan respon hambat pertumbuhan yaitu kuat (10,9-16,0 mm).

EVALUASI PENGGUNAAN ANTIBIOTIK PADA PASIEN RAWAT JALAN BALITA PNEUMONIA DI KLINIK CARITAS BOGOR PERIODE JANUARI – DESEMBER 2019

Andi Ahriansyah; DEWI YULIANA; Krysantus Surya Nugroho
2021 · Book · Open Access

Pneumonia merupakan infeksi saluran pernapasan bawah yang disebabkan oleh mikroorganisme seperti bakteri, virus dan jamur yang menimbulkan peradangan pada paru-paru sehingga alveoli dipenuhi cairan seperti nanah dan menyebabkan kemampuan menyerap oksigen menjadi kurang. Berdasarkan hasil Survey Kesehatan Nasional tahun 2011, diketahui bahwa pneumonia menjadi penyebab kematian balita tertinggi (22,8%). Penggunaan antibiotik yang tidak tepat dapat menyebabkan kurang efektif dalam pengobatan. Berdasarkan hal tersebut, maka dilakukan evaluasi ketepatan penggunaan antibiotik pada pasien pneumonia balita di Klinik Caritas Bogor periode Januari-Desember 2019. Penelitian ini merupakan studi deskriptif dengan pendekatan retrospektif, populasi dalam penelitian ini sebanyak 89 pasien rawat jalan di Klinik Caritas Bogor. Pengambilan sampel ini menggunakan metode purposive sampling, maka sampel yang diperoleh berjumlah 60 pasien. Hasil penelitian mengenai profil penggunaan antibiotik yang terbanyak adalah sefiksim sebanyak 58,33%. Tepat indikasi 100%, tepat pasien 100%, tepat obat 100%, dan tepat dosis mencapai 81,25%.

HUBUNGAN FAKTOR-FAKTOR SOSIODEMOGRAFI DENGAN TINGKAT PENGETAHUAN MENGENAI ANTIBOTIK PADA TENAGA TEKNIS KEFARMASIAN DI WILAYAH KECAMATAN BEJI DEPOK

HANY SHALIHAT SETIAWATI; Muhammad Afqary; Wahyu Dwi Lesmono
2021 · Book · Open Access

Pengetahuan yang dimiliki oleh tenaga teknis kefarmasian mengenai penggunaan antibiotik dapat mencegah terjadinya peningkatan risiko terhadap keamanan pasien, pengobatan yang kurang tepat dan kurang efektif, dan perluasan resistensi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui tingkat pengetahuan tenaga teknis kefarmasian tentang antibiotik berserta hubungannya dengan faktor sosiodemografi di wilayah Kecamatan Beji Depok. Penelitian ini merupakan penelitian asosiatif dengan pengambilan data secara prospektif dengan teknik pengambilan sampel yang digunakan yaitu purposive sampling dengan memberikan kuesioner secara online menggunakan Google Form yang disebarkan kepada 171 tenaga teknis kefarmasian di wilayah Kecamatan Beji Depok. Pertanyaan kuesioner menggunakan standar Permenkes RI No 2406, 2011 tentang pedoman umum tentang antibiotik. Data dianalisis dengan SPSS versi 26 dan Microsoft Excel dengan hasil analisis disajikan dalam bentuk tabel dan grafik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 62% tenaga teknis kefarmasian memiliki tingkat pengetahuan yang baik mengenai antibiotik. Hasil uji Pearson Chi-Square menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara jenis kelamin dan wilayah kerja dengan tingkat pengetahuan tenaga teknis kefarmasian mengenai antibiotik. Hasil uji lanjut Bonferroni menunjukkan terdapat hubungan yang signfikan pada jenis kelamin laki-laki dengan tingkat pengetahuan antiobiotik pada tingkatan kurang dan wilayah kerja di Beji dan Kemiri Muka dengan tingkat pengetahuan antibotik pada tingkatan kurang.

AKTIVITAS EKSTRAK ETANOL 96% DAN ETIL ASETAT DAUN BELUNTAS (Pluchea indica (L.) Less) TERHADAP PENGHAMBATAN ENZIM TIROSINASE

Harry Noviardi; Lilik Sulastri; R.A JASUMANIA OKTAVIANI
2021 · Book · Open Access

Hiperpigmentasi adalah suatu gangguan pada kulit yang menyebabkan produksi melanin berlebih sehingga kulit manusia terdapat bercak berwarna coklat yang sering menimbulkan permasalahan pada keindahan kulit. Salah tau cara untuk mengurangi pigmentasi kulit adalah dengan cara membatasi produk melanin dengan mengghambat aktivitas tirosinase. Daun beluntas memiliki kandungan fenol, flavonoid sehingga dapat menghambat aktivitas enzim tirosinase, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui nilai inhibisi dan IC50 terbaik dari ekstrak etanol 96% dan etil asetat daun beluntas (Pluchea indica (L.) Less) terhadap enzim tirosinase. Daun beluntas diekstraksi dengan menggunakan pelarut etanol 96% dan etil asetat daun beluntas kemudian diuji aktivitas penghambatan terhadap enzim tirosinase dengan konsentrasi 1000 ppm, 750 ppm, 500 ppm, 250 ppm, 125 ppm, 62,5 ppm, 31,25 ppm menggunakan substrat L-Dopa, ekstrak etanol 96% daun beluntas memiliki nilai IC50 sebesar 3431,224 dan ekstrak etil asetat daun beluntas memiliki nilai IC50 sebesar yaitu 37915,8181. Hasil ini menunjukan bahwa etanol 96% dan etil asetat daun beluntas memiliki aktivitas penghambatan pada enzim tirosinase tetapi hasil nya belum maksimal, maka perlu dilakukan penelitian lebih lanjut untuk aktivitas inhibisi enzim tirosinase menggunakan metode ekstraksi dan substrat yang berbeda.

KESESUAIAN PENYIMPANAN DAN DISTRIBUSI VAKSIN BCG DAN DPT BERDASARKAN PERMENKES NO. 12 TAHUN 2017 DI PUSKESMAS RATU JAYA PERIODE APRIL - SEPTEMBER 2020

ARUM HIDAYANTI; Ferry Effendi; Vivian Sugianti
2021 · Book · Open Access

Vaksin adalah produk biologi yang berisi antigen berupa mikroorganisme yang sudah mati atau masih hidup yang dilemahkan, masih utuh atau bagiannya, atau berupa toksin mikroorganisme yang telah diolah menjadi toksoid atau protein rekombinan, yang ditambahkan dengan zat lainnya, yang bila diberikan kepada seseorang akan menimbulkan kekebalan spesifik secara aktif terhadap penyakit tertentu. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan sistem penyimpanan dan distribusi vaksin BCG dan DPT berdasarkan Permenkes No. 12 Tahun 2017 di Puskesmas Ratu Jaya dengan 3 kategori untuk penyimpanan vaksin yaitu cara sarana dan prasarana, keadaan lemari es dan pengelolaan dalam penyimpanan vaksin, serta melihat data suhu cold chain dan vaccine carrier. Jenis penelitian ini adalah accidental sampling dan pengamatan langsung menggunakan lembar observasi. Hasil penelitian diperoleh persentase untuk sistem penyimpanan, yaitu kategori sarana dan prasarana dengan persentase 90%, keadaan lemari es dengan persentase 89,47%, pengelolaan dalam penyimpanan vaksin dengan persentase 94,44%, dan suhu cold chain dengan persentase 100%. Untuk sistem pendistribusian vaksin diperoleh persentase 81,25% dan suhu vaccine carrier dengan persentase 100%. Pada penelitian ini disimpulkan bahwa kesesuaian sistem penyimpanan vaksin Puskesmas Ratu Jaya dengan persentase 93,48% dan kesesuaian pendistribusian vaksin BCG dan DPT di Puskesmas Ratu Jaya dengan persentase 90,62% dinyatakan baik atau sesuai dengan Permenkes No. 12 Tahun 2017.

PENGARUH MANAJEMEN OBAT TERHADAP KUALITAS PELAYANAN INSTALASI FARMASI RAWAT JALAN DI RUMAH SAKIT UMUM DAERAH PALABUHANRATU

ALDI ALPIANDI; Nanang Hermawan; Teguh Alamsyah
2021 · Book · Open Access

Instalasi Farmasi Rumah Sakit adalah unit pelaksana fungsional yang menyelenggarakan seluruh kegiatan pelayanan kefarmasian di Rumah Sakit. Tugas Instalasi Farmasi adalah menyelenggarakan, mengkoordinasikan, mengatur, mengawasi seluruh kegiatan pelayanan kefarmasian yang optimal dan professional serta sesuai dengan prosedur dan etik farmasi. penelitian ini untuk mengetahui Pengaruh manajemen obat terhadap kualitas pelayanan instalasi farmasi rawat jalan di rumah sakit umum daerah palabuhanratu,menggunalan metode cross sectional dan pendekatan langsung ke pegawai serta pasien dengan pengumpulan data berupa kuisioner dengan menggunakan metode linkert, jumlah sampel dihutungan berdasarkan metode slovin dengan jumlah sampel untuk pasien 100 orang dan karyawan 50 orang. Data dianalisis dengan metode univariat, bivariat, dan multivariat. Hasil penelitian metode univariate didapatkan kehandalan ( sangat puas 12%, puas 46%, cukup puas 40%, kurang puas 2% ), ketanggapan ( sangat puas 13%, puas 26%, cukup puas 54, kurang puas 6%, sangat tidak puas 1%%),jaminan (sangat puas 3%, puas 45%, puas 45%, kurang puas 7%, sangat tidak puas 0%), empaty ( sangat puas 8%, puas 34%, cukup puas 56%, kurang puas 1%, sangat tidak puas 1%), wujud/nyata ( sangat puas 5%, puas 36%, cukup puas 55%, kurang puas 4%), hasil analisis bivariate terdapat 4 variabel yang memiliki hubungan antara manajemen obat dengan kualiatas pelayanan yang ditunjukan ( p-value <0,05) adalah perencanaan (p-value 0,035), pengadaan (p-value 0,024), distribusi (p-value 0,044), dan pengendalian (p-value 0,020). Hasil analisis mualtivaiate dari 4 variabel yang memiliki hubungan antara manajemen obat dengan kualitas pelayanan yang memiliki pengaruh paling tinggi adalah pengendalian yang ditunjukan dengan nilai Exp B tertinggi yaitu 2,685 hasil ini menunjukan bahwa pengendalian memilik pengaruh 2 kali lebih besar.

PERBEDAAN EFEKTIVITAS OBAT DIARE ZINK DENGANZINK PROBIOTIK PADA PASIEN ANAK DI RAWAT INAP RUMAH SAKIT ISLAM BOGOR

EMILDA WIRDATUL AWALIAH; Ferry Effendi; Rio Julyo
2021 · Book · Open Access

Diare merupakan salah satu penyebab utama morbilitas dan mortalitas anak dinegaraberkembang.Pemberianzinkdanprobiotikpadadiareanaktelahmenunjukkan dampakyangpositifterhadapkejadiandiare.Penelitianinibertujuanuntukmengetahuip erbedaanefektivitaszinkdenganzinkprobiotikdalampenanganan diare anak di Rumah Sakit islam Bogor pada bulan Januari sampaidengan Desember 2019. Penelitian ini dilakukan dengan metode analisis deskriptifdengan karakteristik pasien meliputi usia, jenis kelamin, Berat Badan (BB), jenisobatyangdigunakandanlamaharirawatinappasien.Analisisdatapadapenelitianin i dilakukan dengan uji normalitas menggunakan SPSS versi 20. Hasil penelitianlebih baik dengan menggunakan terapi kombinasi zink probiotik dibanding obattunggal zink. Rerata lama rawat inap pada pemberian zink probiotik lebih cepatyaitu ± 2- 4 hari dibanding rerata lama inap pada pemberian zink yaitu ± 3-6 hari.Dari hasil penelitian dapat dilihat bahwa nilai sig 0,00 lebih kecil dari taraf nyata0,05 maka pengujian tersebut memberikan keputusan tolak H0 terima H1 dengandemikian dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan penggunaan obat tunggalzinkpada pasiendiareanakdibandingdenganobat kombinasizinkprobiotik.

PERBANDINGAN AKTIVITAS ANTIOKSIDAN MASKER PEEL OFF EKSTRAK ETANOL BIJI DAN TONGKOL JAGUNG (Zea mays L.)

AFRILLIYANTI WIJAYA; Febi Ishfahani; M. Ikhwan Setiawan
2021 · Book · Open Access

Antioksidan adalah zat yang dapat menangkal atau mencegah reaksi oksidasi dari radikal bebas. Jagung diketahui mengandung saponin, tannin, flavonoid, fenol, steroid, glikosida, terpenoid, protein, mineral. Flavonoid dan fenol diketahui berfungsi sebagai aktivitas antioksidan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui senyawa metabolit sekunder serta menguji aktivitas antioksidan dari ekstrak tunggal dan sediaan masker peel off ekstrak biji jagung (XBJ) dan tongkol jagung (XTJ) dengan viariasi formula F1 (XBJ 0,035%), F2 (XTJ 0,035%), F3 (XBJ 0,070%) dan F4 (XTJ 0,070%) dengan metode peredaman radikal bebas yang diukur absorbansinya menggunakan spektrofotometri Uv-Vis pada panjang gelombang 515,5 nm. Ektrak etanol 96% biji dan tongkol jagung mengandung flavonoid, saponin dan tanin. Pada XBJ dan XTJ memiliki aktivitas antioksidan dengan IC50 berturut-turut yaitu 35,406 ppm dan 33,223 ppm serta pada masker peel off F1 (XBJ 0,035%), F2 (XTJ 0,035%), F3 (XBJ 0,070%) dan F4 (XTJ 0,070%) memiliki nilai IC50 berturut-turut yaitu 63,115 ppm, 57,094 ppm, 43,089 ppm dan 42,509 ppm.

FORMULASI SEDIAAN GEL DARI EKSTRAK DAUN RAMBUTAN (Naphelium lappaceum) DAN DAUN URANG ARING (Eclipta prostrata) SEBAGAI PEWARNA RAMBUT

Inawati; M. Ikhwan Setiawan; YASICA NUR’HALIZA
2021 · Book · Open Access

Pewarna rambut adalah salah satu sediaan kosmetika yang digunakan dalam tata rias rambut untuk mengganti ataupun mengembalikan warna rambut. Daun urang aring (Eclipta prostrata) dan daun rambutan (Naphelium lappaceum) merupakan tumbuhan yang memiliki senyawa tanin yang berfungsi sebagai penghasil warna dari warna kuning, coklat sampai keemasan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bahwa ekstrak daun rambutan dan ekstrak daun urang aring dengan perbedaan bahan pembangkit warna dapat memberikan efek dan stabilitas warna pada rambut, mutu fisik dan kesukaan dari warna rambut yang dihasilkan sediaan pewarna rambut. Penelitian ini membuat formula pewarna rambut dengan membandingkan pembangkit warna. Pembangkit warna pirogalol ditambah tembaga (II) sulfat dan asam askorbat ditambah besi (II) sulfat dapat diformulasikan ke dalam sediaan pewarna rambut dengan bahan pembangkit tersebut didapatkan hasil dari warna light ivory hingga warna chocolate brown. Jangka waktu perendaman rambut mempengaruhi warna rambut yang dihasilkan, pada formula 2 memiliki daya lekat warna yang lebih kuat pada rambut dapat bertahan hingga 15 kali pencucian, dan untuk stabilitas warna terhadap sinar matahari menunjukkan hasil tetap stabil. Sediaan pewarna rambut dari ekstrak urang aring dan daun rambutan berbentuk gel, beraroma khas, memiliki pH sediaan 4,5-6,5, viskositas pada kisaran 3000-49400 cps. Formula yang banyak diminati oleh masyarakat ialah F1 urang aring.

FORMULA DAN AKTIVITAS ANTIBAKTERI SEDIAAN OBAT KUMUR EKSTRAK BATANG SERAI WANGI (Cymbopogon nardus L.) TERHADAP BAKTERI Streptococcus mutans

Antonius Padu Ratu; Kenli Kendi Tampoliu; RINA RUSTIYANINGSIH
2021 · Book · Open Access

Karies merupakan suatu penyakit yang ada di area mulut pada bagian gigi yang diakibatkan oleh bakteri Streptococcus mutans. Salah satu tanaman simplisia yang dapat mencegah perkembang biakan bakteri Streptococcus mutans adalah batang serai wangi (Cymbopogon nardus L.) karena mengandung flavonoid yang dapat mencegah perkembang biakan bakteri. Penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan formula sediaan obat kumur ekstrak batang serai wangi yang dapat mencegah perkembang biakan bakteri Streptococcus mutans. Pengujian stabilitas sediaan obat kumur dengan konsenstrasi 30%, 33% dan 36% dilakukan pada suhu ruang, suhu rendah, suhu tinggi dilakukan selama 28 hari dan metode Cycling test selama 12 siklus, pengujian ini meliputi uji antibakteri dengan menggunakan metode difusi cakram, organoleptik, ph dan viskositas. Hasil pengujian uji bakteri diawal stabilitas didapatkan zona hambat sebesar 12,70 mm, 14.10 mm dan 14.20 mm, diakhir stabilitas didapatkan zona hambat sebesar Suhu Ruang (8,60 mm, 8,80 mm dan 8,73 mm) Suhu Rendah (7,70 mm, 7,90 mm dan 8,32 mm) Suhu Tinggi (7,87 mm, 7,90 mm dan 7,36 mm) dan Cycling test (6,97 mm, 8,07 mm dan 8,57 mm). hasil pengujian stabilitas ph memenuhi persyaratan mutu yaitu dengan range 5,00-5,55 (syarat ph 5-7). Hasil stabilitas uji viskositas didapatkan nilai viskositas dengan range 1,04-3,21 Cps.

PENGARUH PEMBERIAN EKSTRAK ETANOL 70% DAGING BUAH BISBUL (Diospyros discolor Willd.) TERHADAP PENURUNAN KADAR GULA DARAH PADA TIKUS PUTIH JANTAN (Rattus novergicus) GALUR Sparague dawley YANG DIINDUKSI ALOKSAN

Fredy Ariefta Nasel; Inawati; STEPANY BR SEMBIRING
2021 · Book · Open Access

Buah Bisbul (Diospyros discolor Willd.) dikenal juga sebagai Velvet Apple atau buah mentega. Buah bisbul merupakan buah yang awalnya tumbuh liar di hutan- hutan Filipina, namun kini telah menyebar di berbagai negara tropis, termasuk Indonesia. Buah bisbul memiliki efek toksisitas dan kandungan kimia senyawa aktif flavonoid, tanin, saponin. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh ekstrak etanol 70 % buah bisbul dalam menurunkan kadar glukosa darah (antidiabetes) yang diinduksi aloksan. Simplisia daging buah bisbul diekstraksi dengan metode maserasi menggunakan pelarut etanol 70% dan diuji secara in vivo. Pengukuran kadar glukosa menggunakan alat glukometer selama 14 hari. Perlakuan hari ke-14 pada kontrol negatif mengalami penurunan sebesar 1,24 %. Perlakuan kontrol positif mengalami penurunan kadar glukosa darah sebesar 50,33%. Perlakuan dengan pemberian ekstrak dosis 200mg/KgBB, 400mg/KgBB, 600mg/KgBB, dan dosis 850 mg/KgBB menurunkan kadar glukosa sebesar 6 %,12,88%, 32,50 % dan 17,19 %. Hasil terbaik yang memiliki pengaruh menurunkan kadar glukosa darah yang mekanisme kerjanya hampir sama dengan metformin adalah ekstrak daging buah bisbul dengan dosis 600mg/KgBB.