Sebanyak 244 item atau buku ditemukan

FORMULASI DAN UJI ANTIBAKTERI SEDIAAN FACEWASH EKSTRAK ETANOL 70% DAUN UBI JALAR UNGU (Ipomoea batatas (L) Lam ) TERHADAP BAKTERI Staphylococcus epidermidis

No. 866 Kulit wajah rentan mengalami gangguan kesehatan. Salah satu penyebab jerawat adalah bakteri Staphylococcus epidermidis. Diketahui bahwa daun ubi ungu.mengandung senyawa antibakteri seperti flavonoid, saponin dan polifenol. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan informasi kandungan senyawa , aktivitas antibakteri dan mutu fisik sediaan Facewash gel ekstrak etanol 70% daun ubi jalar ungu(Ipomoea batatas L) terhadap bakteri Staphylococcus epidermidis. Pada penelitian ini ekstrak daun ubi jalar ungu diformulasikan dalam sediaan Faceawash gel dengan berbagai konsentrasi ekstrak yaitu 70%,80%,90% kemudian dilakukan uji mutu fisik sediaan, uji antibakteri, dan uji stabilitas Cycling test. Hasil penelitian menunjukan ekstrak daun ubi jalar ungu mengandung senyawa alkaloid, flavonoid, tanin, saponin. Diameter daya hambat ekstrak daun ubi jalar ungu terhadap bakteri Staphylococcus epidermidis dengan konsentrasi 70%,80%,90% berturut-turut sebesar 6,8 mm,7,65 mm, 9,25 mm. Ketiga sediaan Facewash gel memiliki diameter daya hambat berturut-turut sebesar 15,26 mm, 18,33 mm, 18,83 mm dengan kategori kuat serta memiliki mutu fisik dan stabilitas yang baik dalam proses penyimpanannya, Kata Kunci : Antibakteri, Ekstrak daun Ubi Jalar Ungu, Facewash gel, Jerawat, Staphylococcus epidermidis.

FORMULASI DAN AKTIVITAS ANTIBAKTERI SEDIAAN OBAT KUMUR HERBAL INFUSA DAUN SEREH WANGI (Cymbopogon nardus L.) TERHADAP BAKTERI Streptococcus mutans

No. 863 Karies gigi adalah penyakit pada daerah mulut gigi yang disebabkan oleh bakteri Streptococcus mutans . Salah satu tanaman yang dapat menghambat pertumbuhan bakteri Streptococcus mutans adalah tanaman sereh wangi (Cymbopogon nardus L.) karena mengandung flavonoid dan tanin yang dapat menghambat pertumbuhan bakteri tersebut. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menghasilkan formulasi obat kumur herbal infusa daun sereh wangi yang dapat menghambat pertumbuhan Streptococcus mutans . Pengujian stabilitas obat kumur pada F1 (25%), F2 (12,5%), dan F3 (6,25%), dilakukan pada suhu rendah (4 0C), suhu ruang (270C), dan suhu tinggi (400C) selama 28 hari. Pengujian ini meliputi uji aktivitas antibakteri menggunakan metode sumuran, uji mutu fisik sediaan, pH dan viskositas. Aktivitas antibakteri pada awal uji stabilitas F1, F2, dan F3 berturut-turut menunjukkan zona hambat sebesar 16,33; 15,57; dan 14,90 mm, dan pada minggu ke-4 stabilitas pada suhu 4 0C (9,87; 8,2; dan 7,67 mm) suhu 270C (9,3; 8,83; dan 7,73 mm) dan suhu 40 0C (9,13; 7,13; dan 6,3 mm). Hasil uji stabilitas pH untuk ketiga formulasi memenuhi syarat mutu pada kisaran 5,56-7 (persyaratan pH 5-7). Hasil uji kestabilan viskositas menunjukkan nilai viskositas pada kisaran 0,81-2,38 cps. Pada suhu 4 0C viskositas tidak memenuhi syarat dikarenakan lebih besar dari viskositas air. Kata Kunci : Antibakteri, Daun sereh wangi, Sediaan Obat kumur, Streptococcus mutans

EVALUASI PEMBERIAN ANTIBIOTIK PROFILAKSIS PRA OPERASI PADA PASIEN RAWAT INAP POST SECTIO CAESAREA DI RSIA PASUTRI BOGOR

No. 857 Section Caesarea merupakan proses persalinan yang memiliki risiko infeksi lebih besar yaitu 5-20 kali lipat dibandingkan persalinan secara normal. Risiko infeksi ini bisa diturunkan melalui penggunaan antibiotik profilaksis, dengan tujuan mengurangi insiden infeksi luka operasi paska bedah. Penelitian ini dilaksanakan demi mengetahui gambaran sosiodemografi pasien, gambaran penggunaan antibiotik profilaksis berdasar pada empat parameter tepat, yaitu tepat pasien, tepat obat, tepat dosis, dan tepat waktu pemberian. Empat parameter tersebut merupakan acuan para rumah sakit yang tertuang di dalam SOP tindakan. Parameter tersebut wajib dilakukan untuk menghindari adanya infeksi luka operasi. Penelitian ini termasuk studi deskriptif melalui penggunaan data sekunder, dimana berasal dari rekam medik pasien yang melaksanakan sectio caesar di RSIA Pasutri Bogor periode April-Mei 2020. Hasil penelitian menunjukan dari 133 data rekam medis, profil pasien bedah section caesarea di RSIA Pasutri Bogor pada bulan April-Mei 2020 berdasarkan data sosiodemografi usia diperoleh data terbanyak usia 26-36 tahun 71 pasien (53,4%), Berdasarkan indikasi medis terbanyak yaitu riwayat bekas 70 pasien (52,63%) dan Ketuban Pecah Dini (KPD) 20 pasien (15,4%). Penggunaan antibiotik ceftriaxon 130 Pasien (97,74%) cefotaxime 3 pasien (2,26%.). Hasil evaluasi penggunaan antibiotik profilaksis adalah tepat pasien (100%), tepat dosis (0%), tepat obat (0%), serta tepat waktu pemberian (95,49%). Kata kunci : Pasien, Parameter Ketepatan, Evaluasi Penggunaan Obat

EVALUASI KESESUAIAN PERESEPAN DOKTER PADA PASIEN RAWAT JALAN DENGAN FORMULARIUM DI RUMAH SAKIT MEDIKA DRAMAGA BOGOR

No. 853 Formularium Rumah Sakit merupakan daftar obat dan kebijakan penggunaan obat yang disepakati staf medis, disusun oleh Komite/Tim Farmasi dan Terapi dan ditetapkan oleh direktur/kepala rumah sakit.Peneliti membandingkan list daftar obat dengan formularium rumah sakit ternyata terdapat nama obat pada list tetapi tidak terdaftar pada formularium untuk itu peneliti tertarik melakukan penelitian mengenai evaluasi kesesuaian peresepan dokter. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik dan kesesuaian resep pasien umum rawat jalan dengan Formularium Rumah Sakit Medika Dramaga periode bulan Juli sampai September 2019. Penelitian ini dilakukan dengan cara mengumpulkan data resep meliputi nama pasien, kelas terapi, nama obat, umur pasien, jenis kelamin nama dokter secara retrospektif pada periode Bulan Juli sampai Bulan September 2019. Hasil penelitian menujukan bahwa pasien rawat jalan dengan jenis kelamin laki-laki sebanyak 54%, perempuan 46% dengan rentang umur balita 12%, kanak-kanak 11%, remaja awal 1%, remaja akhir 11%, dewasa awal 22%, dewasa akhir 19%, lansia awal 15%, lansia akhir 9%, manula 0%. Sebanyak 91 resep terdapat persentase kesesuaian berdasarkan resep sebesar 84% dengan Persentase kesesuaian berdasarkan item obat sebesar 88%, persentase obat Generik sesuai formularium sebesar 98% dan Non Generik sesuai formularium sebesar 80%, kesesuaian berdasarkan poliklinik tertinggi pada poli orthopedi 100% dan poli bedah 100%, kesesuaian berdasarkan kelas terapi yang terbanyak yaitu antasida dan antiulkus sebesar 19%. Kata kunci: formularium, rumah sakit, poliklinik