Sebanyak 73 item atau buku ditemukan

SEDIAAN KRIM KOMBINASI EKSTRAK ETANOL 70% DAUN JAMBU MAWAR (Syzygium jambos (L.) Aston), DAUN JAMBU BOL (Syzygium malaccense (L) Merr, & L.M. Perry), YANG MEMILIKI AKTIVITAS ANTIOKSIDAN

No. 864 Antioksidan adalah solusi untuk mencegah terjadinya oksidasi pada radikal bebas yang menyebabkan berbagai penyakit. Salah satu tanaman yang mengandung aktivitas antioksidan yaitu daun jambu mawar dan daun jambu bol. Kandungan senyawa fenol dan flavonoid terkandung pada daun jambu mawar, daun jambu bol. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antioksidan dan stabilitas yang sangat baik dari komposisi krim daun jambu mawar dan daun jambu bol berdasarkan uji mutu. metode penelitian dimulai dari masing-masing daun jambu mawar, daun jambu bol penentuan kadar air, diekstraksi menggunakan metode maserasi, uji fitokimia, formulasi pembuatan krim dan uji aktivitas antioksidan. Formula krim ini menggunakan ekstrak daun jambu mawar dan daun jambu bol pada formula 1 dengan perbandingan (2:2), formula 2 (3:1), formula 3 (1:3) dan kontrol positif (SariAyu) pengujian aktivitas antioksidan yang diukur secara spektrofotometri UV-Vis. Hasil penelitian ini menunjukan nilai IC50 berturut-turut sebesar 67,29 ppm, 12,43 ppm dan 122,15 ppm. Antioksidan paling kuat ditemukan pada formula 2 dengan perbandingaan (3:1). Sediaan krim diuji selama 28 hari pada suhu kamar (27oC), dan diuji Cycling Test pada suhu rendah (4oC), dan suhu panas (40oC). Evaluasi sediaan dengan parameter sediaan krim, yaitu warna hijau, aroma khas, homogen, dengan pH 4-6,5, daya sebar dengan nilai 5-7 cm, daya lekat 2-300 detik, viskositas 4000-40000 cPs. Kata kunci: Krim, Daun jambu mawar, Daun jambu bol, antioksidan, Stabilitas

EVALUASI KETEPATAN PENGGUNAAN ANTIBIOTIK PADA PASIEN PENDERITA ISPA DI KLINIK KIRANA 1 BOGOR

No. 858 Infeksi Saluran Pernafasan Akut merupakan suatu infeksi akut pada struktur saluran nafas yang mengganggu proses pertukaran gas mulai dari bagian hidung sampai alveoli termasuk adneksanya (sinus, rongga telinga tengah, pleura) yang sebagian besar disebabkan infeksi virus dan bakteri. Antibiotik adalah obat yang paling banyak digunakan pada infeksi yang disebabkan oleh bakteri. Tujuan penelitian ini untuk mengkaji kesesuain ketepatan penggunaan antibiotik dengan Pharmaceutical Care berdasarkan asas tepat indikasi, tepat dosis, tepat interval dan tepat lama pemberian obat pada pasien penderita ISPA di Klinik Kirana 1. Data yang digunakan adalah data rekam medis, yang dilakukan secara retrospektif pada pasien remaja akhir sampai manula penderita ISPA periode Juli-Desember 2020. Penelitian bersifat observasional (non eksperimental) retrospektif dan dianalisis secara deskriptif. Data sosiodemografi pasien penderita ISPA paling banyak berjenis kelamin laki-laki sebanyak 53,7% dan usia terbanyak yaitu dewasa awal sebanyak 37,8%. Penggunaan antibiotik terdiri dari Cefixime sebanyak 5 pasien (6,1%), Ciprofloxacin sebanyak 11 pasien (13,4%), kemudian Cefadroxil sebanyak 14 pasien (17,1%) dan Amoxicillin sebanyak 52 pasien (63,4%). Ketepatan penggunaan antibiotik pada pasien penderita ISPA yaitu tepat dosis sebanyak 100%, tepat indikasi sebanyak 100%, tepat lama pemberian sebanyak 36,6%, dan tepat frekuensi pemberian sebanyak 100%. Kata kunci: Infeksi Saluran Pernafasan Akut, Antibiotik, Ketepatan Antibiotik.

GAMBARAN TINGKAT PENGETAHUAN PASIEN TERHADAP DAPATKAN, GUNAKAN, SIMPAN DAN BUANG (DAGUSIBU) OBAT GOLONGAN ANALGETIK DI APOTEK SENTOSA DEPOK

No. 855 Pengetahuan pasien mengenai Dapatkan, Gunakan, Simpan dan Buang Obat (DAGUSIBU) obat golongan analgetik masih banyak pasien yang tidak memahami mengenai penggunaan obat yang tepat, sehingga hal ini dapat menyebabkan timbulnya efek samping yang tidak diinginkan. Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui sosiodemografi pasien di Apotek Sentosa Depok, mengetahui bagaimana cara pasien dalam mendapatkan obat, menggunakan obat, menyimpan obat, dan membuang obat. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu analisis frequency dengan SPSS versi 26. Rancangan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini yaitu cross-sectional dengan teknik purposive sampling. Dengan mengisi kuisioner menggunakan 80 responden dan 20 pernyataan dinyatakan valid setelah diuji validasi menggunakan SPSS. Dari data yang diperoleh menunjukkan lebih banyak responden berjenis kelamin perempuan sebanyak 66,25% dengan usia dewasa awal (25-35 tahun) sebanyak 42,5%, pendidkan terakhir terbanyak yaitu perguruan tinggi sebanyak 35% dan memiliki pekerjaan sebagai wiraswasta sebanyak 43,8%. Gambaran tingkat pengetahuan menunjukkan rata-rata tingkat DAGUSIBU pasien yaitu cara mendapatkan obat masuk dalam katagori baik sebesar 78,75%, cara menggunakaan obat masuk dalam katagori cukup dengan presentase 64,375% , cara menyimpan obat masuk dalam katagori cukup dengan presentase 60% dan cara membuang obat masuk dalam katagori cukup dengan presentasi

ANALISIS KEPATUHAN MINUM OBAT PASIEN JANTUNG PADA KELOMPOK YANG DIBERI PIO DAN KELOMPOK YANG TIDAK DIBERI PIO DI RAWAT JALAN RSUD PALABUHANRATU

No. 851 Pemberian informasi obat (PIO) merupakan hal yang sangat penting dalam pelayanan kesehatan di rumah sakit, karena dengan pemberian informasi obat yang baik akan menentukan kepatuhan pasien. Kepatuhan pasien jantung dalam penggunaan obat merupakan salah satu aspek penting dalam penanganan penyakit jantung. Penyakit jantung memasuki kategori 5 besar penyakit yang terbanyak jumlah kunjungannya di Rumah Sakit Umum Daerah Palabuhanratu.Tujuan penelitian ini untuk mengetahuiperbandingan kepatuhan pasien penyakit jantung pada kelompok yang diberi pemberian informasi obat dan tidak diberi pemberian informasi obat di RSUD Palabuhanratu. Desain penelitian yang digunakan adalahquasi eksperimentaldengan rancangan cross sectional dengan pengambilan data primer secara purposive samplinguntuk mengetahui kepatuhan minum obat pasien penyakit jantung pada kelompok yang diberi PIO dan kelompok yang tidak diberi PIO mengunakan MMAS-8 dan lembar checklist. Hasil penelitian menunjukan kepatuhan pasien dengan pemberian informasi obat, sebanyak 56,4% kepatuhan rendah, sebanyak 20,5% kepatuhan sedang, sebanyak 23,1% kepatuhan tinggi dan kepatuhan pasien tanpa pemberian informasi obat sebanyak 71,8% kepatuhan rendah, sebanyak 25,6% kepatuhan sedang, sebanyak 2,6%kepatuhan tinggi. Terdapat perbadingan signifikan kepatuhan minum obat pasien penyakit jantung antara kelompok yang diberi PIO dan kelompok yang tidak diberi PIO dengan nilai signifikansi Uji Mann Whitney 0,001< 0,05. Kata kunci: Pemberian Informasi Obat, Kepatuhan, Penderita Penyakit Jantung.

TINGKAT KEPATUHAN PASIEN TUBERKULOSIS TERHADAP PENGGUNAAN OBAT ANTI TUBERKULOSIS DI INSTALASI FARMASI RAWAT JALAN BMC MAYAPADA HOSPITAL BOGOR

No. 216 Penyakit TB paru merupakan penyakit menular langsung yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis. Tingkat kepatuhan pasien dalam meminum obat anti tuberkulosis secara teratur sampai tuntas dan patuh merupakan salah satu faktor yang menentukan keberhasilan pengobatan TB paru. Faktor yang mempengaruhi tingkat kepatuhan minum obat anti tuberkulosis pada penderita TB paru adalah adanya motivasi, dukungan keluarga, tingkat pendidikan serta pekerjaan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat kepatuhan minum obat anti tuberkulosis pada pasien TB paru dewasa rawat jalan di Rumah Sakit BMC Mayapada Bogor. Jenis Penelitian yang digunakan adalah penelitian yang bersifat deskriptif. Sampel yang digunakan dalam penelitian sebesar 77 responden. Pengambilan sampel menggunakan purposive sampling. Pengambilan data menggunakan kuesioner yang sudah tervalidasi yang dibuat berdasarkan MMAS-8 (Morisky Medication Adherence Scale). Hasil dari penelitian ini menunjukan sebanyak 43 responden (56%) berjenis kelamin pria, dengan kategori kelompok usia 26-35 tahun (dewasa awal) sebanyak 53 responden (69%), tingkat pendidikan formal terakhir mayoritas pada jenjang perguruan tinggi (S1) sebanyak 35 responden (49%), dan sebagian besar responden bekerja sebagai Wiraswasta sebanyak 25 responden (32%) dan didapat hasil sebesar 69 responden (90%) memiliki tingkat kepatuhan tinggi, 6 responden (8%) memiliki tingkat kepatuhan sedang, dan 2 responden (2%) memiliki tingkat kepatuhan rendah. Kesimpulan dari tingkat kepatuhan minum obat anti tuberkulosis pada pasien TB paru dewasa rawat jalan di BMC Mayapada Hospital Bogor dengan nilai diatas adalah sebesar 69 responden (90%) memiliki tingkat kepatuhan tinggi. Kata Kunci : Kepatuhan, Tuberkulosis (TB Paru), MMAS-8 (Morisky Medication Adherence Scale), Obat Anti Tuberkulosis Paru.

GAMBARAN TINGKAT KEPUASAN PASIEN TERHADAP PELAYANAN KEFARMASIAN DI APOTEK KIMIA FARMA 50 BOGOR

No. 210 Kualitas pelayanan apotek sangat berpengaruh terhadap kepuasan pelanggan. Pelanggan yang puas berdampak terhadap minat pelanggan untuk kembali ke apotek. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran tingkat kepuasaan pasien terhadap pelayanan di Apotek Kimia Farma No 50 Bogor. Penelitian ini merupakan penelitian observasional pada 92 pasien dengan menggunakan metode purposive sampling. Instrumen pada penelitian ini menggunakan kuesioner lima dimensi kualitas pelayanan farmasi dalam menentukan kepuasan pasien yang terdiri dari bukti fisik atau bukti langsung, keandalan, daya tanggap, empati, dan jaminan. Hasil penelitian menujukkan pasien merasa sangat puas (89.5%) dengan kategori bukti fisik atau bukti langsung sebesar 90% dan empati 90% terhadap pelayanan petugas Apotek Kimia Farma No 50 Bogor. Kata Kunci : Kualitas pelayanan, kepuasaan pasien.